• Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh
Hari

Your cart

Price
SUBTOTAL:
Rp.0

2050: Pangan Meroket 50%, Apa Penyebabnya?

img

Newsmenit.com Dengan izin Allah semoga kita selalu diberkati. Pada Waktu Ini saya ingin membedah Economy, News, Indonesia, Dunia yang banyak dicari publik. Informasi Terkait Economy, News, Indonesia, Dunia 2050 Pangan Meroket 50 Apa Penyebabnya Dapatkan wawasan full dengan membaca hingga akhir.

Jakarta, 17 Juli 2025 - Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Isu Air, Retno Marsudi, menekankan eratnya hubungan antara ketahanan pangan dan ketersediaan air. Dalam forum Kagama Leaders di RRI, Retno menyoroti bahwa dunia sedang menghadapi krisis air yang diperparah oleh perubahan iklim.

Retno menjelaskan bahwa 72% air tawar dunia digunakan untuk pertanian. Produksi pangan sangat bergantung pada air, contohnya, 1 kg beras membutuhkan 2.500 liter air per tahun, sementara 1 kg jagung memerlukan 900 liter air.

Saat ini, satu dari empat orang di dunia mengalami kekeringan atau kekurangan air. Para ahli memprediksi bahwa pada tahun 2050, kekeringan akan berdampak pada tiga perempat populasi dunia. Selain itu, populasi dunia diperkirakan mencapai 10 miliar pada tahun 2050, meningkatkan kebutuhan pangan sebesar 50% dan kebutuhan air tawar sebesar 30%.

Retno mengidentifikasi tiga tantangan utama: banjir, kekeringan, dan isu geopolitik. Ia menekankan perlunya pendekatan integrated water resources management dan solusi inovatif lainnya. Pendekatan responsif air harus menjadi inti dari sistem agrifood.

Retno juga menyoroti pentingnya data dan informasi yang akurat untuk pengambilan keputusan yang tepat di sektor air dan pertanian. Teknologi, termasuk AI, diperlukan untuk mencapai hal ini. Kebijakan air dan pangan tidak dapat dipisahkan.

Retno mendorong pemerintah untuk mempercepat transformasi sistem agrifood agar lebih efisien, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan. Ia juga menyoroti bahwa pendanaan infrastruktur air masih didominasi oleh dana pemerintah (90%), dengan partisipasi swasta hanya 2%. Anggaran pemerintah untuk infrastruktur air hanya 1,2% dari total belanja publik, menurut Bank Dunia.

Diperlukan political will, koordinasi lintas sektoral, dan koherensi kebijakan di semua tingkatan untuk mengatasi tantangan ini. Upaya untuk menghasilkan produksi pertanian yang lebih tinggi dengan menggunakan air yang lebih sedikit juga sangat penting.

Begitulah 2050 pangan meroket 50 apa penyebabnya yang telah saya jelaskan secara lengkap dalam economy, news, indonesia, dunia, Terima kasih atas kepercayaan Anda pada artikel ini kembangkan jaringan positif dan utamakan kesehatan komunitas. Bantu sebarkan dengan membagikan ini. Sampai bertemu di artikel menarik berikutnya. Terima kasih.

© Copyright 2024 - Newsmenit Situs Berita Terbaru Terkini Setiap Menit
Added Successfully

Type above and press Enter to search.