AS Borong Saham: Rekor Pembelian Kembali, Pertanda Buruk?
Newsmenit.com Mudah mudahan kalian dalam keadaan sehat, Pada Kesempatan Ini saya ingin membahas Business, News, Indonesia, Dunia yang sedang trending. Laporan Artikel Seputar Business, News, Indonesia, Dunia AS Borong Saham Rekor Pembelian Kembali Pertanda Buruk Yuk
Table of Contents
Pada tahun 2025, perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat menunjukkan tren agresif dalam melakukan buyback saham, dengan proyeksi mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah. Goldman Sachs dan Citigroup memperkirakan total buyback saham oleh perusahaan AS dapat menembus US$1 triliun, melampaui rekor sebelumnya pada tahun 2022 dan 2024.
Apple Inc. (AAPL) memimpin dengan nilai pembelian saham kembali yang fantastis, mencapai US$106,9 miliar selama periode 12 bulan yang berakhir pada Maret 2025. Meta Platforms (META) juga mencatatkan lonjakan signifikan, mengalokasikan US$17,6 miliar pada kuartal I 2025, naik tajam dari US$3,9 miliar pada kuartal IV 2024. NVIDIA (NVDA) tidak kalah agresif, menggelontorkan US$15,6 miliar pada kuartal yang sama.
Advance Micro Devices (AMD) mengumumkan program pembelian kembali saham baru senilai US$6 miliar pada Mei 2025. Program ini menambah sisa program sebelumnya, sehingga total otorisasi pembelian saham AMD mencapai US$10 miliar. Bank of America (BAC) juga menyetujui program buyback saham senilai US$40 miliar, yang akan dimulai pada 1 Agustus 2025. Charles Schwab (SCHW) juga mengesahkan program serupa senilai US$20 miliar pada 24 Juli 2025.
Terdapat beberapa faktor yang mendorong tren buyback ini. Pertama, sektor teknologi seperti Apple, Meta, dan NVIDIA mencatatkan arus kas bebas yang besar berkat pertumbuhan pesat pada bisnis AI dan cloud computing. Kedua, The Fed mulai mengisyaratkan pelonggaran kebijakan moneter di paruh kedua 2025, menciptakan cadangan kas berlebih. Ketiga, koreksi harga saham pada kuartal akhir 2024 hingga awal 2025 memberikan peluang menarik bagi perusahaan untuk membeli saham mereka sendiri di level harga yang relatif murah.
David Kostin dari Goldman Sachs menyatakan bahwa buyback menjadi alternatif efisien ketika suku bunga turun dan tidak ada banyak proyek investasi dengan imbal hasil tinggi. Buyback juga digunakan sebagai sinyal kepercayaan diri manajemen terhadap prospek jangka panjang perusahaan. Strategi ini diharapkan dapat meningkatkan nilai bagi para pemegang saham dan memberikan fleksibilitas dalam mengelola struktur modal.
Beberapa perusahaan menggunakan strategi accelerated share repurchase (ASR) untuk menangkap valuasi diskon, sementara yang lain memilih skema pembelian terbuka (open market repurchase). Lonjakan buyback ini menjadi sinyal kuat atas kepercayaan tinggi korporasi terhadap prospek pasar saham dan strategi efisiensi modal.
Begitulah uraian komprehensif tentang as borong saham rekor pembelian kembali pertanda buruk dalam business, news, indonesia, dunia yang saya berikan Terima kasih telah menjadi pembaca yang setia tetap semangat berkarya dan jaga kesehatan tulang. Sebarkan manfaat ini kepada orang-orang di sekitarmu. Sampai jumpa lagi
✦ Tanya AI