• Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh
Hari

Your cart

Price
SUBTOTAL:
Rp.0

Gedung DPR: Kisah Filosofi, Arsitek, dan Ikon Demokrasi.

img

Newsmenit.com Semoga kebahagiaan menghampirimu setiap saat. Di Artikel Ini mari kita eksplorasi lebih dalam tentang Lifestyle, News, Indonesia, Trends. Konten Yang Membahas Lifestyle, News, Indonesia, Trends Gedung DPR Kisah Filosofi Arsitek dan Ikon Demokrasi Jangan sampai terlewat simak terus sampai selesai.

    Table of Contents

Gedung ikonik yang kini menjadi pusat kegiatan legislatif Indonesia, ternyata memiliki sejarah panjang dan unik. Gagasan awal pendiriannya dicetuskan oleh Soekarno, dengan tujuan sebagai pusat kegiatan CONEFO (Conference of the New Emerging Forces), sebuah forum internasional yang diinisiasi oleh Indonesia.

Pembangunan gedung ini dimulai pada tanggal 8 Maret 1965, berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI Nomor 48/1965. Hanya dalam waktu singkat, tepatnya 22 Februari 1965, Soekarno telah menyetujui rancangan arsitektur yang diajukan oleh Soejoedi Wirjoatmodjo, seorang arsitek lulusan Technische Universität Berlin Barat.

Soejoedi merancang bangunan ini dengan filosofi mendalam, yaitu kepakan sayap burung yang hendak terbang. Simbol ini merepresentasikan semangat bangsa Indonesia untuk bangkit dan terus maju. Desain ini kemudian diwujudkan dalam bentuk dua kubah setengah lingkaran berwarna hijau yang menjadi ciri khas gedung ini.

Namun, perjalanan pembangunan tidak selalu lancar. Perubahan politik di Indonesia membawa dampak pada fungsi gedung. Melalui Surat Keputusan Presidium Kabinet Ampera Nomor 79/U/Kep/11/1966 tanggal 9 November 1966, pembangunan dilanjutkan dan fungsi gedung dialihkan menjadi tempat berkantornya lembaga legislatif, yaitu MPR, DPR, dan DPD.

Kawasan ini tidak hanya terdiri dari satu gedung. Terdapat Gedung Nusantara I hingga V, Gedung Bharana Graha, Gedung Sekretariat Jenderal MPR/DPR/DPD, Gedung Mekanik, serta Masjid Baiturrahman. Setiap bangunan memiliki peran masing-masing, namun semuanya terintegrasi sebagai pusat kegiatan legislatif yang dinamis.

Dari sidang-sidang MPR yang bersejarah hingga rapat-rapat DPR yang membahas kebijakan penting, semua kegiatan tersebut berlangsung di bawah atap rancangan Soejoedi. Gedung ini menjadi saksi bisu perjalanan bangsa dan terus menjadi pusat pengambilan keputusan penting bagi Indonesia.

Demikianlah gedung dpr kisah filosofi arsitek dan ikon demokrasi telah saya bahas secara tuntas dalam lifestyle, news, indonesia, trends Dalam tulisan terakhir ini saya ucapkan terimakasih tetap produktif dan rawat diri dengan baik. Mari sebar kebaikan ini kepada semua. Sampai jumpa lagi

© Copyright 2024 - Newsmenit Situs Berita Terbaru Terkini Setiap Menit
Added Successfully

Type above and press Enter to search.