• Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh
Hari

Your cart

Price
SUBTOTAL:
Rp.0

Minat Baca Rendah: Pelajar Indonesia Lebih Pilih Buku Ringan?

img

Newsmenit.com Bismillah semoga hari ini penuh kebaikan. Kini aku mau membahas informasi terbaru tentang Business, News, Indonesia, Dunia. Informasi Terbaru Tentang Business, News, Indonesia, Dunia Minat Baca Rendah Pelajar Indonesia Lebih Pilih Buku Ringan lanjut sampai selesai.

Jakarta, [Tanggal Hari Ini] - Sebuah ironi terungkap dalam lanskap pendidikan Indonesia. Di tengah gempuran teknologi dan metode pembelajaran modern, perpustakaan, sebagai jantung literasi, justru semakin sepi pengunjung. Data Survei Sosial Budaya dan Pendidikan (Susenas MSBP) 2024 menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan: hanya 44,56% peserta didik yang menyempatkan diri mengunjungi perpustakaan atau Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dalam tiga bulan terakhir.

Menariknya, dominasi kunjungan perpustakaan justru datang dari jenjang SMA/SMK (55,32%) dan SMP (52,01%). Fenomena ini menimbulkan pertanyaan, mengapa minat baca di kalangan pelajar usia muda justru lebih tinggi dibandingkan dengan jenjang pendidikan lainnya?

Lebih jauh, data ini menyoroti ketidaksetaraan akses literasi yang mencolok. Perpustakaan, yang seharusnya menjadi wadah pemerataan akses informasi dan pengetahuan, justru terpengaruh oleh status ekonomi. Anak-anak dari keluarga dengan tingkat pengeluaran tinggi memiliki peluang lebih besar untuk mengakses perpustakaan. Pada kelompok 20% teratas, tercatat 52,29% peserta didik mengunjungi perpustakaan.

Ketimpangan ini menjadi tantangan serius. Bagaimana mungkin budaya baca dapat tumbuh subur jika akses ke sumber-sumber bacaan terbatas pada kelompok tertentu? Perlu adanya upaya kolektif dari pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat untuk memastikan bahwa perpustakaan dapat diakses oleh semua kalangan, tanpa memandang status ekonomi.

Mungkin sudah saatnya kita meninjau kembali peran dan fungsi perpustakaan di era digital ini. Perpustakaan bukan hanya sekadar tempat menyimpan buku, tetapi juga pusat kegiatan literasi yang interaktif dan inklusif. Dengan inovasi dan adaptasi, perpustakaan dapat kembali menjadi magnet bagi para pelajar dan masyarakat umum, serta menjadi garda terdepan dalam mencerdaskan bangsa.

Begitulah ringkasan minat baca rendah pelajar indonesia lebih pilih buku ringan yang telah saya jelaskan dalam business, news, indonesia, dunia Saya harap Anda menikmati membaca artikel ini tetap semangat belajar dan jaga kebugaran fisik. Bagikan kepada teman-teman yang membutuhkan. semoga artikel lainnya juga bermanfaat. Sampai jumpa.

© Copyright 2024 - Newsmenit Situs Berita Terbaru Terkini Setiap Menit
Added Successfully

Type above and press Enter to search.